Jujur aja, aku pernah tergoda banget sama iklan teh jati cina yang katanya bisa bikin perut rata dalam seminggu. Siapa sih yang nggak mau? Tapi setelah ngobrol sama temen yang kecele, dan riset lebih dalam, ternyata ceritanya nggak seindah itu. Mari kita ngobrolin apa yang sebenarnya terjadi di tubuh kita pas ngonsumsi teh ini.
Apa Sebenarnya Teh Jati Cina Itu?
First things first, teh jati cina itu bukan teh biasa yang enak diseduh sambil ngemil biskuit. Daunnya berasal dari tanaman Senna alexandrina atau Cassia angustifolia. Rasanya? Strong, pahit, dan ada aftertaste kayak obat pencahar—karena memang itu fungsi utamanya.
Dalam dunia medis, senna adalah laksatif stimulan yang diresepkan untuk sembelit akut. Bukan untuk diet harian. Jadi bayangin aja, setiap kali kamu minum teh ini, kamu lagi “nyuruh” ususmu bekerja lembur paksa.

Mitos vs Fakta: Beneran Bisa Turunin BB?
Banyak yang bilang berat badan turun 2-3 kg seminggu. Faktanya? Yang turun itu bukan lemak, tapi mostly air, makanan yang belum tercerna, dan isi usus. Begitu kamu minum air putih lagi atau makan normal, bobot naik lagi.
Metabolismemu nggak ada yang berubah. Lemak di sel-sel masih betah kok. Jadi ini cuma ilusi diet cepat yang bikin kamu sibuk ke toilet.
Efek Samping yang Bakal Kamu Rasakan (Jangka Pendek)
Kalo kamu coba minum, prepare yourself:
- Perut kram parah – Bukan kram biasa, tapi yang bikin kamu meringkuk. Ususmu lagi dipaksa kontraksi keras.
- Diare eksplosif – Bisa 3-5 kali sehari, tergantung dosis. Nggak enak banget kalo lagi di luar.
- Dehidrasi – Keluar terus tapi masuknya sedikit? Tubuhmu kehilangan cairan dan elektrolit penting.
- Mual & pusing – Akibat dehidrasi dan elektrolit yang mulai nggak seimbang.
- Warna urine gelap – Tanda tubuhmu minta tolong “minum dong!”
Aku pernah cuma setengah sachet, dan besoknya perut kayak ada yang diaduk-aduk pakai sendok. Nggak mau lagi deh.
Bahaya Jangka Panjang Kalau Ketergantungan
Ini yang paling serius. Kalo udah jadi kebiasaan, tubuhmu bisa jadi addicted:
Usus jadi “malas” – Lama-lama ususmu nggak bisa kontraksi sendiri tanpa bantuan senna. Sembelit kronis justru jadi lebih parah. Ini namanya lazy bowel syndrome.
Elektrolit kacau balau – Kalium rendah bisa bikin otot lemah, jantung aritmia, bahkan sampai pingsan. Kalo kamu yang suka olahraga, ini red flag besar.
Kerja ginjal & jantung terbebani – Cairan yang keluar terus-menerus bikin organ vitalmu kerja ekstra. Bisa jadi gagal ginjal akut kalo parah.
Warna usus hitam – Efek samping yang menakutkan tapi umum, disebut melanosis coli. Meski biasanya reversible, tetep aja bikin panik.
“Teh jati cina itu kayak nitro pada mobil. Bisa make mobil lebih cepat, tapi kalo dipakai tiap hari, mesin jebol. Ususmu butuh kerja natural, bukan paksa terus.”

Data Konkret: Berapa Sih Batas Aman?
Studi menunjukkan konsumsi senna lebih dari 2 minggu berturut-turut udah masuk zona berbahaya. Dosis aman maksimal adalah 17-20 mg sennosida A&B per hari. Tapi kenyataannya, kadar di teh komersial nggak standar. Satu sachet bisa beda-beda.
Siapa yang Wajib Jauh-jauh?
Nggak cuma ibu hamil atau menyusui aja yang harus hindari. Ini list lengkapnya:
- Penderita IBS (Irritable Bowel Syndrome) – Bisa memperparah gejala.
- Yang punya riwayat ginjal atau jantung – Dehidrasi bikin kondisi memburuk.
- Anak-anak dan lansia – Sensitivitas tinggi, risiko dehidrasi fatal.
- Yang lagi minum obat jantung atau diuretik – Interaksi obat berbahaya.
- Sebelum operasi – Bisa ganggu elektrolit penting selama anestesi.
Kalau Mau Coba, Begini Cara Aman (Tapi Tetep Nggak Direkomendasikan)
Kalo kamu tetep penasaran dan mau coba sekali-sekali:
- Maksimal 1 sachet dalam 250ml air panas, jangan lebih.
- Minum sebelum tidur malam supaya efeknya keluar pagi (jangan sebelum kerja).
- Pastikan minum minimal 2 liter air putih sepanjang hari.
- Jangan lebih dari 2 hari berturut-turut. Istirahat minimal 1 minggu sebelum coba lagi.
- Stop kalo perut kramnya nggak tertahankan atau diare lebih dari 5 kali.
Tapi aku tetep bilang: nggak usah deh. Banyak cara lain yang lebih sustainable.
Alternatif Diet yang Lebih “Ramah”
Daripada paksa ususmu, mending coba ini:
Teh Hijau atau Oolong – Kandungan katekin dan kafeinnya bantu metabolisme alami tanpa efek samping keras. Rasanya juga enak, bisa dinikmati.
Teh Pu-erh – Setelah makan berlemak, teh ini bantu pencernaan lebih halus. Aku suka yang ada sedikit earthy flavor-nya.
Air putih + lemon + jahe – Kombinasi sederhana tuh yang paling ampuh buat detoks alami. Jahenya bikin perut hangat, lemonnya segar.
Ubah pola makan – Ya, ini memang paling susah. Tapi efeknya permanen. Kurangi gula olahan, naikin serat dari sayur dan buah. Hasilnya lebih satisfying.
“Diet yang baik itu kayak menyeduh kopi pour-over: butuh waktu, sabar, dan proses. Nggak bisa instan kaya kopi sachet yang cuma diseduh air panas.”
Kesimpulan dari seorang pecinta teh: Teh jati cina itu bukan teh, tapi obat. Dan obat nggak boleh jadi camilan sehari-hari. Kalo tujuannya diet, fokus ke yang bener-bener bikin tubuhmu sehat, bukan cuma bikin ringan sementara. Percayalah, ususmu bakal makasih kalau kamu perlakukan dengan lembut.




